Reaktor Nuklir Pra Sejarah

Alam Semesta Mahabharata. Apa sich nuklir itu? Orang awam selalu mengidentikkan nuklir sebagai suatu yang serem, sebagai senjata pemusnah masal. Padahal saat ini nuklir lebih banyak dimanfaatkan untuk kepentingan damai. Seperti contohnya pemanfaatan nuklir untuk pembangkit listrik, radioterapi dan radiologi (kedokteran nuklir), sumber bahan bakar kendaraan seperti kapal selam Russia, kapal induk Amerika dan pesawat antariksa, teknik NDT (uji tidak merusak) dan bahkan baterai yang dapat berumur ribuan kali batarai yang ada dipasaran saat ini.

Reaktor nuklir dapat didefinisikan sebagai suatu tempat untuk melangsungkan reaksi fusi/fisi (nuklir). Dengan bahasa yang lebih sederhana dapat diartikan sebagai tempat terjadinya pemecahan atau penggabungan inti-inti atom. Penggabungan atau pemisahan inti-inti atom akan mehasilkan sejumlah energi sesuai dengan rumusan yang dikemukakan Einstein, E = m.c2. Yang ternyata bukan hal yang baru dalam ilmu pengetahuan Veda. Kesetaraan energi dan materi yang dijabarkan oleh rumusan ini diungkapkan oleh Rgveda II.72.4 yang menyebutkan “Aditer dakso ajayata, daksad uaditih pari”. Artinya : Dari aditi (materi) asalnya daksa (energi) dan dari daksa (energi) asalnya aditi (materi). Ternyata teori yang mencengangkan ini telah tersurat jauh sebelum moyang dari Einstein lahir. Jadi siapa yang lebih hebat, Einstein apa Veda?

Membuat sebuah reaksi nuklir tentu bukanlah hal mudah. Pemecahan atom-atom uranium dilakukan dalam sebuah sarana pembangkit daya (power plant), yang akan menghasilkan energi berupa panas dan neutron-neutron yang kemudian mengakibatkan atom-atom lain memecah. Proses ini disebut dengan pemecahan nuklir (nuclear fission). Diperlukan banyak ilmuwan dan teknisi yang sangat ahli untuk membuat dan mengoperasikan sarana pembangkit daya tersebut. Konstruksi reaktor nuklir sendiri ‘baru’ diperkenalkan pada 1942 di Chicago oleh Enrico Fermi, seorang ahli dan pengajar fisika yang sebelumnya, pada 1938 memenangkan penghargaan Nobel Fisika untuk “the production of transuranic elements by neutron irradiation”.

Seorang ahli fisika berkebangsaan Francis, Perrin pada tahun 1972 menemukan beberapa runtuhan fosil-fosil reaktor di daerah Oklo, Gabbon, Afrika Barat. Menurut penelitian yang dilakukan dengan melibatkan banyak tenaga ahli dan dalam kurun waktu yang cukup lama, disimpulkan bahwa reaktor ini telah beroperasi sekitar 150 juta tahun dengan daya rerata 100 kW. Sampai saat ini jumlah fosil reaktor yang ditemukan sebanyak 15 buah pada tiga site yang berbeda di daerah oklo, Rep, Gabon.

Tanggal 2 Juni 1972, petugas analis di Pierrelatte – Nuclear Fuel Processing Plant, Prancis (yang mengimpor kebutuhan uraniumnya dari Gabon) pada mulanya hanya melakukan pekerjaan rutinnya untuk memeriksa massa beberapa contoh uranium yang akan digunakan tersebut dengan spektrometer. Uranium yang akan diproses, seperti biasa adalah bermassa 235U dengan nilai rasionya selalu adalah 0,00720, namun pada contoh yang diperiksa ternyata mempunyai rasio 0,00717. Walaupun perbedaan yang ditemukan itu relatif kecil namun membuat para ahli dari Prancis lalu berdatangan langsung ke pertambangan Oklo dan di sana justru menemukan uranium dengan rasio yang jauh lebih rendah lagi, mencapai 0.00440. Perbedaan rasio yang lebih rendah ini hanya akan terjadi jika 235U sebagai bahan bakar telah pernah digunakan untuk proses reaksi nuklir. Bahkan di lokasi yang sama juga ditemukan produk keluaran proses reaksi nuklir, yaitu neodymium, sama dengan yang dihasilkan oleh reaktor nuklir masa kini.

Konstruksi reaktor nuklir di Oklo tersebut dirancang dengan menggunakan teknologi yang jauh lebih maju dan efisien daripada yang kini digunakan, termasuk dalam proses pengolahan (yang memanfaatkan air) dan pembuangan limbahnya (dapat dibuang di lokasi itu juga secara aman). Karena itu kemudian menjadi bahan kajian bagi para ahli dalam mendayagunakan teknologi nuklir masa kini.

Dalam Veda sendiri banyak sloka yang mengindikasikan perkembangan energi nuklir. Disamping kesetaraan materi dan energi pada Rgveda II.72.4, Kisah Bharata Yuda juga menyebutkan digunakanya senjata pemusnah Brahmastra yang sepanas matahari. Uniknya penelitian menunjukkan pada area kuru setra tempat Bharata Yuda berlangsung ditemukan tingkat radiasi yang sangat tinggi. Tentunya hal ini hanya dimungkinkan jika di daerah tersebut terjadi aktivitas radioaktif yang tinggi akibat adanya timbunan unsur-unsur radioaktif. Mungkinkah Brahmastra itu adalah senjata Nuklir?

Dalam peperangan antara Arjuna dengan Asvatama juga dikisahkan penggunaan senjata sakti Brahmasirah yang dapat menyemburkan api sebesar gunung. Senjata apa yang bisa mengeluarkan energi seperti itu? Andaikan minyak bumi, diperlukan sekitar 1 ton miyak. Sedangkan dengan bahan bakar nuklir hanya perlu sekitar 1 gram saja. Satu lagi kisah yang sangat menarik yang diceritrakan dalam Mausala Parwa, yaitu meledaknya senjata mausala yang menyebabkan musnahnya bangsa Wresni dan sekaligus menenggelamkan kerajaan Sri Krishna ke dasar laut. Dengan teknologi kita sekarang ini, senjata apa yang bisa menghancurkan sedasyat itu? Hanya rekasi nuklir baik itu fisi/pembelahan, contoh pada Bom Uranium yang menghancurkan Hirosima dan Nagasaki. Maupun fusi/penyatuan, contoh bom Hidrogen yang telah melenyapkan satu pulau di kepulauan Pasifik pada ujicoba pertamanya.

Dengan adanya penemuan Reaktor Nuklir purba, penemuan situs-situs yang mengindikasikan kecocokannya dengan Veda, apakah mungkin kehidupan jaman dahulu lebih canggih dari jaman sekarang?

Terlepas dari semua itu, Veda telah menunjukkan kebenaran-kebenarannya yang mulai diakui secara ilmiah dan meruntuhkan teori-teori dan filsafat dangkal yang mendiskreditkan Veda. Banggalah sebagai pengikut Veda.

---------------------------------------------------------------------------
Sumber : Cowan, A Natural Fission Reactor, Scientific American, 7/76: 3647
Suja, I Wayan, Titik temu IPTEK dan Agama Hindu, Manik geni, Denpasar
Serber, R., The Los Alamos Primer: The First Lectures on how to Build and Atomic Bomb,University of California Press, 1992

No comments:

Post a Comment