Umbul Kendat, Situs Hindu di Boyolali yang Terlupakan

oleh : KRMT Andi Mulyono

Candi Mahabharata. Sejarah menunjukkan bahwa tanah Jawa merupakan pusat perkembangan agama Hindu Nusantara di masa lalu. Kejayaan Imperium Majapahit dan Kerajaan Mataram Hindu Kuno, dipastikan memiliki bentangan wilayah kekuasaan di seluruh tanah Jawa dari ujung Barat sampai Timur. Karena itulah tidak bisa dipungkiri, bahwa sesungguhnya di tanah Jawa terdapat banyak sekali situs milik umat Hindu yang keberadaannya saat ini masih terkubur baik oleh bencana alam atau memang sengaja dihancurkan dan disembunyikan. Salah satunya adalah situs Umbut Kendat yang ada di daerah Pengging, Boyolali, Jawa Tengah.

Umbul Kendat tepatnya terletak di Desa Plumputan Kecamatan Pengging Kabupaten Boyolali dan merupakan petilasan dimana Dyah Ayu Retna Kedaton, salah seorang putri dari Kerthabumi atau Brawijaya V (Raja terakhir Majapahit) melakukan moksa.

Umbul Kendat terdiri atas dua bagian utama. Yang pertama berupa petilasan yang strukturnya berbentuk makam dan satunya lagi berupa pemandian dengan dua sumber mata air.

Menurut RMT Andi Mulyono Kusumonugroho, umat Hindu yang memulai melaksanakan ritual menurut cara Hindu di Umbul Kendat, situs peninggalan Hindu ini belum banyak diketahui masyarakat khususnya umat Hindu. Bahkan sebelum dirinya mulai melakukan ritual Hindu masyarakat setempat yang sebagian besar memeluk Islam menggunakan situs ini untuk melakukan tradisi dengan warna Islami seperti pembacaan ayat-ayat Alquran.

“Dulu sebelum saya memulai menyelenggarakan ritual secara Hindu, masyarakat disini sering melakukan tirakatan atau melek-an,” kata Andi yang merupakan wareng (keturunan V) Sunan Pakubuwono IX (Raja Surakarta tahun 1861-1893). Meski demikian masyarakat setempat sesungguhnya mengetahui bahwa situs tersebut merupakan peninggalan pemeluk Hindu.

Hal ini dilakukan masyarakat setempat karena mereka meyakini bahwa tempat tersebut memiliki aura magis yang sangat tinggi. Di samping untuk memohon penyembuhan dari berbagai penyakit, Umbut Kendat juga sering menjadi tempat memohon berkah dan keselamatan. Hal ini dibuktikan langsung oleh Andi yang sering memberikan pertolongan kepada sesama yang memohon kesembuhan atas penyakit yang dideritanya.

Banyak orang yang sudah berhasil disembuhkan setelah memohon di Umbul Kendat. Demikian juga dengan mereka yang ingin mendapatkan keselamatan banyak yang mengunjungi Umbul Kendat. Andi menceritakan, pernah satu kompi pasukan dari TNI melakukan Yoga Tirtha (berdoa sambil berendam) di Umbul Kendat sebelum mereka ditugaskan ke Aceh.

“Mereka memohon agar diberikan keselamatan waktu dan di saat menjalankan tugas di Aceh,” kata Andi bercerita.

Biasanya mereka yang melakukan persembahyangan di tempat ini terlebih dahulu melakukan pelukatan dengan Yoga Thirta. Dalam proses ini, umat melafalkan gayatri mantram sambil menyampaikan permohonan. Kesejukan air di Umbul Kendat ini akan membuat badan dan pikiran menjadi segar. Setelah melakukan Yoga Thirta, umat mengganti pakaian untuk selanjutnya melakukan persembahyangan di dalam petilasan.

Gigih

Diselenggarakannya ritual menurut Hindu di Umbul Kendat ini, kata Andi, sampai saat ini tidak mengalami kendala dari masyarakat. Secara perlahan masyarakat setempat mulai bisa menerima bahwa yang dipuja di tempat tersebut memang kekuatan dari zaman Hindu. Kedatangan beberapa umat Hindu ke Umbul Kendat ini juga sudah dianggap sebagai hal yang biasa.

Andi yang merupakan pegawai negeri sipil di pemerintah Provinsi Jawa Tengah ini bisa dikatakan cukup gigih untuk terus memperkenalkan keberadaan Umbul Kendat ini. ”Saya sering mengajak umat Hindu baik yang datang dari Bali maupun Jakarta untuk melakukan persembahyangan di Umbul Kendat,” katanya.

Hal ini dilakukannya agar umat Hindu di berbagai daerah mengetahui bahwa Umbul Kendat merupakan salah satu tempat pemujaan milik umat Hindu. Misi ini, menurut Andi, juga tidak lepas dari keinginannya agar umat Hindu tidak kehilangan jejak para leluhurnya di Tanah Jawa.

Disamping itu, misi penyelamatan situs Hindu dari klaim pihak-pihak lain yang memiliki kepentingan merugikan perkembangan Hindu di Jawa. Dengan dikenalnya Umbul Kendat, Andi yang beristrikan gadis dari Gianyar, Bali ini berharap muncul kepedulian untuk menjaga dan melakukan perawatan secara fisik.

Terlebih lagi dalam konteks menjaga kesuciannya. Sebelum dibangun cungkup atau bangunan permanen untuk petilasan seperti yang bisa dilihat saat ini, masyarakat yang mengunjungi Umbul Kendat sering bersikap seenaknya. ”Mereka makan dan minum atau ganti baju basah setelah berendam di dekat petilasan,” kata Andi. Ini jelas membuat kesucian menjadi berkurang.

Selanjutnya, Andi berniat memasukkan nilai-nilai Hindu dalam ritual ”paing-an” yang biasanya digelar setiap Kamis Paing oleh masyarakat setempat.

No comments:

Post a Comment