Maharaja Harischandra (3)

Cerita Mahabharata. Oleh karena maharesi Wishwamitra tidak berkenan menerima pelayanannya lebih lanjut darinya, maka raja Hariscandra bersama anak dan istrinya bersiap-siap pergi meninggalkan istana. Seisi istana dan penduduk yag mendengar berita ini tidak mampu menahan tetesan air matanya, bagaikan sebuah bendungan yang tidak mampu lagi menahan serangan banjir. Mereka semua sangat bersedih dan menangis sedih.

Demikianlah…, melihat rajanya hendak meninggalkan mereka, maka banjir kedukaan melanda hati seluruh penduduk. Pemandangan menyedihkan itu tidak mampu merubah keteguhan langkah maharaja Hariscandra menuruni tangga-tangga istana meninggalkan banjir air mata dari para dayang dan abdi-abdi istana lainnya yang berdiri mematung di pintu keluar istana. Ada yang saling berpelukan berbagi tangis, ada yang berguling-guling menangis kesedihan.

Begitu Hariscandra melangkahkan kaki hendak keluar dari kerajaan, Maharesi Wishwamitra kemballi memanggilnya. Para penduduk hatinya merasa lega. Semua mencakupkan tangan sambil berkomat-kamit memuji Tuhan ,“Narayana….Narayana….., syukurlah…, Maharesi hanya bercanda …”

Belum selesai mereka berdoa, semua dikejutkan oleh suara Resi Wishwamitra yang walaupun tidak begitu keras tetapi semua mendengarnya bagaikan suara geledek di langit menggelegar keras. Seketika itu mereka merasakan seluruh arah menjadi gelap gulita, bagaikan mendung gelap menutupi seluruh arah, menciptakan pemandangan yang gelap gulita. Bagi mereka…, kegelapan itu sebentar lagi akan menurunkan hujan…, yaaa…hujan deraian deras air mata seluruh penduduk…, hujan deras air mata kesedihan seluruh penduduk yang mencintai rajanya. Ternyata Maharesi Wishwamitra memanggil Raja Hariscandra bukanlah untuk mengenbalikan kerajaannya, melainkan,”Hariscandra…, sejak kapan engkau menjadi raja yang bodoh? Engkau telah sumbangkan seluruh kerajaan kepadaku. Tetapi, engkau masih berani membawa perhiasan kerajaanku di badanmu, di badan istrimu…, dan anakmu…??? Tanggalkanlah semua perhiasan itu sebelum kau meninggalkan istana…”

Sambil meminta maaf atas kealpaannya Raja Hariscandra menanggalkan segala perhiasan yang melekap di badannya, termasuk perhiasan putra mahkota dan permaisuri. Sekarang…, raja termasyur Hariscandra, siap meninggalkan kerajaan hanya dengan selembar pakaian sederhana menutupi tubuhnya. Mereka bertiga, terlebih lagi permaisuri raja, nampak tetap anggun, walaupun hanya berpakaian selembar kain saja.

Seorang raja yang bukan hanya luas dalam daerah kekuasaan tetapi juga luas dan dalam didalam pandangan serta pengetahuan. Seorang raja yang berprinsip suci. Ajeg, teguh dan tidak tergoyahkan sama sekali. Walaupun dari seluruh arah terdengar raungan tangis para penduduk yang mencintainya, walaupun di sekitarnya nampak para Senapati yang kuat-kuat pun ternyata tidak kuat menahan tangisnya…, Raja Hariscandra tidak meneteskan air mata setetes pun. Demikian pula halnya dengan permaisuri dan putra mahkota yang masih beliau, Rahula. Permaisuri raja tampak tersenyum anggun sambil mencakupkan tangan menghormat kepada para dayang dan penduduk lain yang akan ditinggalkannya. Sedangkan Rahula…, masih sempat melirik taman istana tempat bermainnya. Sejenak ia menghentikan langkah kakinya, melepaskan pegangan tangan ibunya…, ia berjalan pelan, dengan langkah-langkah kaki yang tampak tidak lincah lagi…, ia mendatangi pengasuhnya. Rahula memandangi mata pengasuhnya yang penuh dengan air mata dan tampak berusaha keras menahan tangis…. Akhirnya…, pengasuh itu tidak tahan lagi menahan tangisnya… Ia menangis keras ketika tangan lembut putra mahkota menyentuh dan memeluknya. Permaisuri segera mendatangi putra mahkota Rahula, membujuk dan melepaskan pelukannya dari badan pengasuhnya.

No comments:

Post a Comment