Make a donation Talk Fusion Saling Memberi
Showing posts with label 1.b. enam belas tahun kemudian. Show all posts
Showing posts with label 1.b. enam belas tahun kemudian. Show all posts

Enam Belas Tahun Kemudian (4)


Mahabharata. Ganga berkata: ”Inilah alasan kedatanganku, aku mengantarkan anak ini untuk paduka, bawalah dia bersama paduka agar dapat memberikan penghiburan bagi paduka. Kini dia telah mahir dalam bersyair dan juga mahir dalam bidang kesenian yang mutlak harus diketahui oleh seorang kshatriya. Vasishtha adalah gurunya. Dari Vasishtha, dia mempelajari Veda dan Vedanga yang merupakan kitab suci yang berisi ajaran tentang kebenaran serta tuntunan dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Dari Brihaspati, guru yang hebat, dia mempelajari ilmu politik dan pemerintahan yang patut diketahui oleh seorang Raja. Dari Bhargava, seorang brahmana yang tidak tertandingi oleh para kshatriya manapun, telah mengajarkannya ilmu memanah. Sekarang Anak kita ini telah pandai dalam berbagai hal yang memang seharusnya diketahui olehnya. Aku telah menjadikan anak kita ini pantas untuk menjadi ahli waris tahta Kerajaan Paurava. Aku akan berikan pahlawan ini kepada paduka. Bawalah dia pergi ke Istana Hastinapura”.

Selesai berkata demikian Ganga kemudian menghilang dari pandangan mata mereka. Santanu terdiam beberapa saat, masih banyak hal yang ingin dikatakannya kepada Ganga, tentang perasaannya, cintanya dan cita-citanya. Namun semuanya sudah tidak mungkin lagi, karena Ganga sudah pergi lagi meninggalkannya. Hatinya terguncang, tidak bisa dipungkiri lagi olehnya bahwa rasa cintanya kepada Ganga sedemikian besarnya, kini tiada lagi harapan untuk bisa bertemu dengannya lagi. Tidak ada lagi alasan yang bisa mempertemukannya lagi.

Raja Santanu kemudian berbalik arah menuju ke arah Istana, sama seperti apa yang telah terjadi enam belas tahun yang lalu. Tetapi kali ini dia tidak sendirian lagi. Anaknya, anak yang dilahirkan oleh Ganga, telah berada disampingnya. Santanu, yang selalu berusaha untuk tetap adil sebagai raja yang selalu kesepian sebegitu lamanya, sangat bangga terhadap pemuda cakap ini. Bersama-sama, ayah dan anak ini berlari-lari kecil menuju ke arah kereta kerajaan yang sudah siap menghantarkannya ke Hastinapura.

Enam Belas Tahun Kemudian (3)


Mahabharata. Ketika mereka sedang asyik bercakap-cakap, tiba-tiba mereka mendengar suara bergemuruh. Suara tersebut adalah suara gemuruh sungai yang airnya telah mengalir kembali, sekarang sungai itu sudah tidak terhadang lagi oleh rajutan anak panah. Dari kejauhan nampak seseorang berlari-lari kecil menuju ke arah mereka, seorang anak muda yang sangat tampan dan gagah yang mempunyai wajah kebangsawanan, wajahnya berseri-seri dengan penuh semangat dan gairah hidup yang menggelora. Pemuda itu kemudian memeluk Ganga dengan kedua belah tangannya seraya berkata:

”Ibu…! Ibu….! Lihatlah ….. Aku telah berhasil menghadang sungai itu lagi, aku telah sanggup melakukannya, pasti Guruku sangat senang mendengar berita ini”.

Sambil tersenyum bangga, Ganga menoleh kepada Raja Santanu. Raja Santanu kelihatan terkagum-kagum melihat anak muda itu.

“Anakmukah itu?” kata Santanu dengan mata penuh keheranan dan penasaran, “Waktu itu…, pasti…, pasti…, dia seharusnya…”.

“Betul, Yang Mulia”, kata Ganga memotong perkataan Santanu yang terbata-bata itu. “tebakan paduka benar, dia adalah anak kita berdua”. Kemudian Ganga berpaling kepada pemuda itu dan berkata:

”Devavrata, ini adalah ayahmu, Raja Santanu yang sudah sering Ibu ceritakan, berikanlah salam hormatmu kepadanya”.

Dengan patuh Devavrata membungkuk dan menyentuh kaki Ayahandanya itu. Santanu memberikan restunya dan kemudian menyuruh anaknya itu bangkit berdiri dan serta merta Devavrata memeluknya dengan perasaan penuh kasih.

Enam Belas Tahun Kemudian (2)


Mahabharata. Santanu terpaku dan terkesima terhadap kejadian itu. Bagaimana mungkin rajutan anak panah itu mampu membendung aliran sungai, kalaupun mungkin pastilah ini perbuatan seseorang yang memiliki keahlian yang sangat tinggi di dalam hal memanah, lalu siapakah yang telah melakukannya? Apakah tujuannya? Hatinya terus bertanya dan bertanya.

Tiba-tiba, Santanu sadar bahwa pada saat yang sama dia sudah tidak sendirian lagi di tempat itu. Ganga, Ganga yang selama ini sangat dicintainya dan yang sangat dirindukannya telah berdiri disampingnya dengan senyuman yang sangat manis dan menawan hatinya. Santanu melihat Ganga dengan penuh kebahagiaan dan keharuan yang bercampur aduk menjadi satu, tanpa dirasakan olehnya, sebutir air mata telah bergulir meninggalkan pelupuk matanya, mengalir membasahi pipinya yang kurus dan pucat itu. Dengan suara yang sedikit parau dan bergetar, akhirnya Santanu berkata:

”Ganga...., tidakkah engkau menaruh kasihan kepadaku? Bertahun-tahun lamanya aku hidup seorang diri, aku selalu menantimu, rasa-rasanya aku sudah tidak dapat hidup tanpa dirimu lagi. Kembalilah kepadaku, aku tahu bahwa engkau telah memaafkan diriku, kalau tidak, bagaimana mungkin engkau bisa datang kepadaku hari ini? Marilah kita pulang ke Istana. Buatlah kami berbahagia kembali”.

Ganga memandangnya dengan penuh perasaan hiba dan juga penuh dengan perasaan kasih sayang yang terpancar di kedua belah matanya, Ganga berkata :

”Yang Mulia, semua ini adalah masa lalu, hamba sudah tidak dapat lagi kembali kepada paduka. Pada saat matahari telah menentukan sebuah hari, adalah sangat bodoh bagi kita untuk meminta kepada matahari itu agar dia mau kembali ke hari semula, sehingga kita akan dapat hidup sehari lagi. Matahari akan kembali, tetapi hanya untuk melayani hari yang lain. Tidak satupun dapat kembali, tidak ada yang abadi meskipun hanya sementara. Akan aku beritahukan kepada paduka, kenapa aku datang menemui paduka hari ini. Apakah paduka menyaksikan sungai yang sedang terhadang oleh anak-anak panah itu?”.

“Ya”, kata Raja Santanu, “itu adalah pemandangan yang telah membuatku terpesona, pada saat engkau datang barusan, katakan kepadaku Ganga, siapakah yang telah melakukannya?”.

Enam Belas Tahun Kemudian (1)


Mahabharata. Enam belas tahun telah berlalu, selama enam belas tahun itu pula Santanu menahan kesedihan hatinya yang telah ditinggal pergi oleh permaisuri yang sangat dicintainya, Ganga. Hatinya yang kesepian, hatinya yang sangat merindukan kekasih hatinya, telah dirasakannya sedemikian lamanya. Di balik kehidupan mewah di Istana Kerajaan Paurava, terdapat sebuah hati yang suasananya sangat berseberangan dengan suasana kemewahan Istana itu, itulah hati Santanu. Kehidupan Santanu kini terasa hampa, hidupnya terasa bagaikan sudah tidak berarti lagi.

Meskipun keadaan hati Santanu seperti itu, namun sistem pemerintahannya masih berjalan dengan baik. Santanu adalah seorang Raja yang sangat arif dan bijaksana serta seorang yang sangat sempurna. Rakyat negeri itu merasa sangat berbahagia berada di bawah kepemimpinannya. Salah satu kesenangan Santanu sejak dari dulu adalah berburu, dan berburu. Santanu selalu menyempatkan diri berkunjung ke tepian Sungai Ganga untuk berburu sambil mengenang kembali saat-saat terakhir bersama Ganga. Inilah satu-satunya kegemaran yang mampu memberikan penghiburan kepadanya.

Pagi itu, sangat indah suasananya. Matahari memancarkan cahayanya yang lembut putih kemerahan yang menerpa halaman Istana. Di halaman depan Istana itu, nampak Santanu sedang menuju ke sebuah kereta yang telah disiapkan oleh kusir kereta kerajaan. Di dalam kereta itu sudah disiapkan perlengkapan berburu bagi Santanu. Santanu segera menghentakkan tali kekang kereta kudanya, dan akhirnya kereta itupun segera melaju dengan kencangnya menuju ke tepian sungai Ganga. Santanu memacu keretanya sendirian, karena tidak ingin kesenangan berburunya terganggu oleh orang lain termasuk kusir kereta kerajaan. Hutan di sekitar sungai Ganga sudah terlewati, nampaklah berbagai macam binatang buruan berkeliaran kesana kemari yang merupakan sasaran yang sangat empuk bagi panah Santanu. Santanu, segera turun dari keretanya, berjalan menyusuri sungai Ganga, sambil melihat kesana kemari menanti sasaran yang enak untuk dibidik. Seekor kijang yang sedang bercengkerama dengan teman-temannya telah menggoda hatinya. Anak panah yang sudah disiapkan di busurnya dipentangkannya lebar-lebar, matanya lurus menatap leher kijang itu yang akan dijadikan sasaran anak panahnya. Namun dengan sangat mendadak, diurungkannya niatnya untuk membidik sasaran yang sudah di depan matanya itu, karena Santanu secara tiba-tiba dikagetkan oleh sebuah pemandangan yang sangat aneh dan asing yang selama ini belum pernah dilihatnya. Di kejauhan sana terlihat sesuatu tengah menghadang sungai Ganga, sehingga sungai Ganga itu tidak mampu mengalirkan airnya lagi. Dengan perasaan keingintahuan yang dalam, Santanu akhirnya berjalan di sepanjang tepian Sungai Ganga untuk melihat lebih dekat lagi, sebenarnya apa yang sedang terjadi? Dia melihat sekumpulan anak panah. Anak-anak panah itu telah terajut sedemikian rupa sehingga tidak setetes airpun mampu melewati rajutan anak panah itu. Santanu berdiri terpaku ditempatnya, terkesima terhadap sesuatu yang telah terjadi pada sungai itu.