Make a donation Talk Fusion Saling Memberi
Showing posts with label 1.d. sumpah membujang. Show all posts
Showing posts with label 1.d. sumpah membujang. Show all posts

Sumpah Membujang (6)


Mahabharata. Tanpa banyak membuang waktu lebih lama lagi, Devavrata segera mengajak Satyavati, calon ibu tirinya itu, untuk ikut dengannya ke Hastinapura. Devavrata mempersilahkan gadis itu, untuk segera naik ke atas keretanya, dan tidak berapa lama kemudian kereta tersebut dipacu dengan cepat menuju ke arah Hastinapura. Devavrata, ingin sekali mempertemukan calon ibu tirinya kepada ayahnya yang sangat dicintainya ini, sehingga tanpa terasa perjalanan yang sebenarnya cukup jauh ini, bisa ditempuhnya dalam waktu yang tidak seberapa lama.

Sumpah Membujang (5)

Mahabharata. Pangeran Muda ini menjadi sangat terkejut atas pertanyaan kepala nelayan yang tidak diduga sebelumnya. Devavrata adalah seorang kshatriya sejati, orang yang telah mendapatkan gemblengan dari guru-guru yang hebat, sehingga watak kshatriya telah melekat dan menyatu dalam dirinya, sehingga apapun kata-kata yang terucap dari bibirnya akan selalu dipegang teguh oleh dirinya. Namun, kelihatannya kepala nelayan ini sedemikian rendah memandang dirinya sehingga dengan kata-kata seperti ini dia belum juga percaya, ini menunjukkan betapa tamaknya orang ini. Dengan senyuman yang mencibir, Devavrata berkata :

Sumpah Membujang (4)


Mahabharata. “Tuan muda”, kata kepala nelayan itu, “hamba hanya menginginkan sebuah penilaian yang arif dan bijaksana, hamba tahu dengan baik bahwa anugerah yang sangat besar telah diberikan kepada kami, ketika ayah paduka melamar putri hamba. Akan tetapi kejadian seperti ini telah diramalkan sebelumnya bahwa putra dari Satyavati, putri hamba, kelak akan menjadi seorang Raja. Hamba juga telah mengetahui segala hal mengenai paduka, Pangeran Muda. Paduka adalah Putra Mahkota (Yuvaraja) dari kerajaan Paurava. Paduka Raja Santanu sangat sayang kepada Paduka. Dan ketika hamba mengajukan persyaratan itu, Paduka Raja Santanu tidak dapat menjawab permintaan hamba, beliau hanya diam dan kemudian berlalu dari hadapan hamba. Kelihatannya beliau sangat keberatan dengan persyaratan yang hamba ajukan. Nah itulah kejadian yang sebenarnya Tuan muda”.

Sumpah Membujang (3)


Mahabharata. Setelah mendengar apa yang disampaikan oleh sais kereta itu, Devavrata segera bergegas meninggalkan istana, tanpa terlebih dahulu meminta ijin dan persetujuan dari ayahnya. Devavrata memacu keretanya dengan kecepatan yang luar biasa, karena ada sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya. Dia tidak bisa menerima kalau ayahnya sebagai seorang raja yang disegani dan sekaligus dikagumi oleh seluruh rakyatnya, mendapat perlakuan seperti ini. Sebenarnya, dengan seluruh kekuasaannya sebagai raja, ayahnya bisa memperoleh apa yang diinginkannya. Hal inilah yang membuat dirinya merasa penasaran dan ingin segera mengetahui dan sekaligus menyelesaikan permasalahannya.

Sumpah Membujang (2)



Mahabharata. Sungguh mempesona apa yang telah disampaikan oleh ayahnya ini, rasa tidak percaya pada pendengarannya sendiri membuatnya terpaku, namun dia sadar memang itulah yang dikatakan oleh ayahnya ini. Devavrata terkesima dan diam beberapa saat dan kemudian segera berlalu dari hadapan ayahnya yang sangat dicintainya ini tanpa mengeluarkan sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. Kecerdasan yang dimiliki oleh Devavrata telah mampu menangkap isyarat apa yang telah disampaikan melalui rangkaian kata-kata yang telah diucapkan oleh Ayahnya. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Devavrata segera pergi menemui kusir kereta kerajaan yang telah mengantarkan ayahnya pergi berburu beberapa hari yang lalu. Setelah bertemu dengan kusir kereta kerajaan itu, Devavrata segera berkata:

Sumpah Membujang (1)


Mahabharata. Pagi itu, Devavrata merasa sangat heran terhadap suasana yang sedang terjadi di Istana Hastinapura. Ayah yang sangat dicintainya yang biasanya sangat ramah dan selalu nampak bergembira, dalam beberapa hari belakangan ini nampak sangat berbeda. Kini ayahnya Santanu, nampak selalu menyendiri dan menjadi seorang pendiam, nampaknya ada sesuatu yang sedang terjadi. Sikap ayahnya terhadap dirinyapun dirasakannya sangat berbeda, jarang sekali terjadi tegur sapa ataupun perhatian terhadapnya sudah sangat berubah. Biasanya ayahnya selalu mengajaknya membicarakan mengenai masa depan Hastinapura, membicarakan mengenai cara-cara atau langkah-langkah apa yang perlu diambil untuk mensejahterakan rakyatnya, dan banyak lagi yang biasanya menjadi bahan pembicaraannya. Devavrata merasa tidak diperhatikan lagi. Beberapa kali Devavrata mencoba untuk mengajak bicara, namun tidak ada satupun jawab yang memuaskannya. Rasa penasaran Devavrata semakin menjadi, sehingga pada suatu hari, Devavrata memberanikan diri lagi untuk meminta penjelasan kepada ayahnya.