Make a donation Talk Fusion Saling Memberi
Showing posts with label Candi Madjapahit. Show all posts
Showing posts with label Candi Madjapahit. Show all posts

Ditemukan lagi Patirtan Majapahit di Sidoarjo

Candi Majapahit. Gambar di bawah ini adalah situs Patirtan Urangagung peninggalan Majapahit yang baru ditemukan akhir tahun 2015 yang lalu. Patirtan ini sangat istimewa karena walaupun peninggalan Majapahit akan tetapi airnya masih tetap mengalir selama ratusan tahun di bawah tanah. Air ini banyak diambil oleh warga untuk dijadikan sebagai berkah.

Candi Tikus

Candi Mahabharata. Candi Tikus terletak di di dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, sekitar 13 km di sebelah tenggara kota Mojokerto. Dari jalan raya Mojokerto-Jombang, di perempatan Trowulan, membelok ke timur, melewati Kolam Segaran dan Candi Bajangratu yang terletak di sebelah kiri jalan. Candi Tikus juga terletak di sisi kiri jalan, sekitar 600 m dari Candi Bajangratu. 

Candi Tikus yang semula telah terkubur dalam tanah ditemukan kembali pada tahun 1914. Penggalian situs dilakukan berdasarkan laporan Bupati Mojokerto, R.A.A. Kromojoyo Adinegoro, tentang ditemukannya miniatur candi di sebuah pekuburan rakyat. Pemugaran secara menyeluruh dilakukan pada tahun 1984 sampai dengan 1985. Nama 'Tikus' hanya merupakan sebutan yang digunakan masyarakat setempat. Konon, pada saat ditemukan, tempat candi tersebut berada merupakan sarang tikus. 

Candi Bajangratu

Candi Mahabharata. Bagi anda yang sedang berwisata di daerah Jawa Timur, rasanya belum lengkap apabila anda belum berkunjung ke candi-candi peninggalan Kerajaan Majapahit. Salah satu candi yang akan kami informasikan disini adalah Candi Bajangratu.

Candi Bajangratu terletak di Dukuh Kraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, lokasinya sekitar 3,5 km dari Candi Wringinlawang dan sekitar 600 m dari Candi Tikus. Candi ini masih menyimpan banyak hal yang belum diketahui secara pasti, baik mengenai tahun pembuatannya, raja yang memerintahkan pembangunannya, fungsinya, maupun hal-hal lainnya.

Pemberian nama Bajangratu pertama kali disebut dalam Oudheidkunding Verslag (OV) pada tahun 1915. Arkeolog Sri Soeyatmi Satari menduga bahwa nama Bajangratu ada hubungannya dengan Raja Jayanegara dari Majapahit, karena kata 'bajang' yang berarti kecil. Menurut Kitab Pararaton dan cerita rakyat, Jayanegara dinobatkan tatkala masih berusia bajang atau masih kecil, sehingga gelar Ratu Bajang atau Bajangratu melekat padanya. 

Candi Borobudur

Candi Mahabharata.                                  Instant Pay For You
Siapa tak kenal Candi Borobudur? Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya. Jutaan orang mendamba untuk mengunjungi bangunan yang termasuk dalam World Wonder Heritages ini. Tak mengherankan, sebab secara arsitektural maupun fungsinya sebagai tempat ibadah, Borobudur memang memikat hati.

Candi Prambanan


Candi Mahabharata.                                  Instant Pay For You
Prambanan adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia, dan terletak di pulau Jawa, kurang lebih 20 km timur Yogyakarta, 40 km barat Surakarta dan 120 km selatan Semarang, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi Prambanan terletak di desa Prambanan yang wilayahnya dibagi antara kabupaten Sleman dan Klaten. Candi ini dibangun pada sekitar tahun 850 Masehi oleh salah seorang dari kedua orang ini, yakni: Rakai Pikatan, raja kedua wangsa Mataram I atau

Candi Cangkuang


Candi Mahabharata. Daerah Cangkuang merupakan suatu obyek wisata yang berupa danau, Kampung Pulo dengan rumah adatnya, dan sebuah bangunan candi pada sebuah "pulau" di tengah danau. Pulau tersebut sebetulnya mirip sebuah semenanjung yang menjorok ke arah timur ke tengah danau. Untuk mencapai lokasi ini dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat. Dari jalan raya Nagrek-Garut, pada jarak sekitar 9 km dari simpangan Nagrek-Tasik-Garut yang menuju ke arah kota Garut, setibanya di Leles sebelum alun-alun kemudian membelok ke kiri ke arah Desa Cangkuang dan Kampung Ciakar. Dari pertigaan ini perjalanan dapat dilanjutkan dengan kendaraan roda empat, ojek, delman, maupun berjalan kaki sejauh 3 km.

Candi Cheto



Candi Mahabharata. Diantara heningnya hamparan kebun teh lereng Gunung Lawu, terdapat sebuah peninggalan purbakala yang biasa disebut Candi Cetho/Cetha. Keberadaan kompleks Candi Cetho ini, pertama kali dilaporkan oleh Van de Vlis pada tahun 1842. Penemuan ini menarik perhatian sejumlah ahli purbakala dunia karena unsur nilai kepurbakalaannya. Pada tahun 1928, Dinas Purbakala telah mengadakan penelitian melalui ekskavasi untuk mencari bahan-bahan rekonstruksi yang lebih lengkap.

Berdasarkan penelitian Van Der Vlis maupun A.J. Bernet Kempers, kompleks Candi Cetho terdiri dari empat belas teras. Namun kenyataannya yang ada pada saat ini hanya terdiri dari tigabelas teras yang tersusun dari barat ke timur dengan pola susunan makin kebelakang makin tinggi dan dianggap paling suci. Masing-masing halaman teras dihubungkan oleh sebuah pintu dan jalan setapak yang seolah-olah membagi halaman teras menjadi dua bagian.

Bentuk seni bangunan Candi Cetho mempunyai kesamaan dengan Candi Sukuh yaitu dibangun berteras sehingga mengingatkan kita pada punden berundak masa prasejarah. Bentuk susunan bangunan semacam ini sangatlah spesifik dan tidak diketemukan pada kompleks candi lain di Jawa Tengah kecuali Candi Sukuh.

Tempat Moksa Putri Raja Terakhir Majapahit – Dibentuk Mirip Makam Demi Penyelamatan

Oleh : KRMT Andi Mulyono

Candi Mahabharata. Gempuran laskar Kesultanan Demak setelah berhasil menjatuhkan imperium Majapahit di tanah Jawa dilanjutkan dengan langkah penghancuran semua simbol yang berbau Hindu. Demi penyelamatan dari gempuran Kesultanan Demak ini, beberapa simbol atau tempat yang dipergunakan sebagai pemujaan umat Hindu, struktur bangunannya dibuat menyerupai makam. Salah satunya yang kini masih tersisa adalah situs Umbul Kendat yang merupakan tempat pemujaan berupa petilasan yang dibuat menyerupai makam.

Nama Kendat sendiri dalam bahasa Jawa berarti bunuh diri. Ini dikaitkan dengan tekad salah satu putri raja terakhir Majapahit yakni Kerthabumi atau Brawijaya V (1435-1478) dalam mempertahankan keyakinan/ kepercayaan sehubungan dengan telah runtuhnya Kerajaan Majapahit oleh Kerajaan Demak pimpinan Raden Patah yang mewajibkan seluruh lapisan masyarakat mengikuti kepercayaan baru.

Umbul Kendat, Situs Hindu di Boyolali yang Terlupakan

oleh : KRMT Andi Mulyono

Candi Mahabharata. Sejarah menunjukkan bahwa tanah Jawa merupakan pusat perkembangan agama Hindu Nusantara di masa lalu. Kejayaan Imperium Majapahit dan Kerajaan Mataram Hindu Kuno, dipastikan memiliki bentangan wilayah kekuasaan di seluruh tanah Jawa dari ujung Barat sampai Timur. Karena itulah tidak bisa dipungkiri, bahwa sesungguhnya di tanah Jawa terdapat banyak sekali situs milik umat Hindu yang keberadaannya saat ini masih terkubur baik oleh bencana alam atau memang sengaja dihancurkan dan disembunyikan. Salah satunya adalah situs Umbut Kendat yang ada di daerah Pengging, Boyolali, Jawa Tengah.

Umbul Kendat tepatnya terletak di Desa Plumputan Kecamatan Pengging Kabupaten Boyolali dan merupakan petilasan dimana Dyah Ayu Retna Kedaton, salah seorang putri dari Kerthabumi atau Brawijaya V (Raja terakhir Majapahit) melakukan moksa.