Make a donation Talk Fusion Saling Memberi
Showing posts with label cerita mahabharata. Show all posts
Showing posts with label cerita mahabharata. Show all posts

Kisah Ayaz : Lebih Penting Milik-Nya atau Perintah-Nya?

Cerita Mahabharata.                                   Donation
Pada suatu hari, Sultan Mahmud meletakkan sebutir mutiara di tangan salah seorang menteri: “Bagaimana dengan mutiara ini? Kira-kira berapa nilainya?”
“Mutiara ini sungguh berharga. Nilainya tak terhingga,” jawab menteri.
“Pecahkan saja mutiara itu,” perintah Sultan Mahmud.
“Bagaimana hamba bisa memecahkannya? Hamba hanyalah seorang pelayan. Dan melindungi harta kekayaan baginda menjadi tugas hamba.”
“Bagus, bagus sekali,” tanggap Sri Sultan dan mengambil kembali mutiara itu.

Beberapa saat kemudian, dia meletakkannya di tangan salah seorang perwira: “Bagaimana pendapatmu? Berhargakah mutiara ini?”

Asal-Usul Kehidupan Vidura

Cerita Mahabharata. Oleh : Agung Joni. 
Resi Mandawya adalah seorang resi yang telah memperoleh kekuatan jiwa dan menguasai pengetahuan tentang kitab-kitab suci. Ia mengisi hari-harinya dengan bertapa dan melaksanakan kebajikan-kebajikan sesuai ajaran suci. Ia tinggal di sebuah pertapaan di tengah hutan. Pada suatu hari, ketika ia sedang khusyuk bertapa menyatukan jiwa dan pikirannya di bawah sebatang pohon rindang di luar pondoknya, datang segerombolan penyamun ke pertapaannya. Mereka melarikan diri ke dalam hutan,

Asal Mula Bukit Catu

Cerita Mahabharata. Alkisah di pedalaman Pulau Bali, terdapat sebuah desa yang subur dan makmur. Sawah dan ladangnya selalu memberikan panen yang berlimpah. Di desa tersebut tinggal seorang petani bernama Pak Jurna dan istrinya. Mereka menginginkan hasil panen padinya lebih banyak dari pada hasil panen sebelumnya. 
"Hem,sebaiknya pada musim tanam padi sekarang ini kita berkaul," usul Pak Jurna pada istrinya. "Berkaul apa, pak?" sahut Bu Jurna. 
"Begini, jika hasil panen padi nanti meningkat kita buat sebuah tumpeng nasi besar", ujar Pak Jurna penuh harap. Ibu Jurna setuju.

Kura-kura dan Angsa

Cerita Mahabharata. Ada sepasang Kura-Kura dan Angsa yang hidup di sebuah telaga yang bernama telaga Kumudawati. Telaga itu sangat indah serta banyak bunga-bunga berwarna-warni yang tumbuh di sana. Kura-kura yang jantan bernama Durbhuddhi dan yang betina bernama Katcapa. Angsa yang jantan bernama Cakrengga dan yang betina bernama Cakrenggi. Kedua pasang binatang itu sudah lama bersahabat.

I Lutung Teken Kekua

Cerita Mahbharata. Pada saat saya kecil kakek sering mendongeng saat menjelang tidur kegiatan ini rutin dilakukan berhubung pada saat itu hiburan hampir tidak ada, listrik juga belum ada sehingga jika malam tiba hanya lampu templek yang menjadi alat penerang dan saat sebelum mengantuk hanya cicak didinding yang berusaha menangkap yamuk jadi tontonan kami di serambi rumah sesekali bunyi tokek yang kami hitung bersama sama untuk main tebak tebakan, bunyi jangkrik dan kodok di halaman rumah juga jadi musik pedamping perbincangan, ayah ibu kakek nenek bersama kerabat lainnya yang dewasa asik dengan rumpiannya seputar pengalaman perjalanan hari hari yang dilalui, kami anak-anak bermain tepuk tepukan tangan, kadang kalau terang bulan tiba di ikuti dengan petak umpet, jika tidak terang bulan suasana halaman jadi gelap kami hanya bermain di serambi rumah aja, cahaya lampu templek yang membias ke dinding jadi mainan kami selanjutnya dengan memotong daun bunga kamboja menjadi serupa wayang yang kami mainkan dengan melaihat bayangan yang ada di dinding. Begitulah suasana kehidupan waktu itu sehingga dongeng dari kakek sangat berkesan.

I Kambing Teken I Cicing

Cerita Mahabharata. Pada zaman dulu konon anjing memiliki tanduk, dan ekornya pendek. Sebaliknya, kambing tidak memiliki tanduk, tetapi ekornya panjang. Mereka berdua bersahabat karib. Kemana pun anjing pergi, kambing ikut serta. Begitu pun sebaliknya. Mereka hidup rukun dan damai.

Namun sebenarnya, diam-diam kambing memiliki perasaan iri kepada anjing. Ia iri akan keindahan tanduk anjing. Sudah lama ia ingin memiliki tanduk seperti itu. Tapi, dia tak tahu bagaimana cara untuk memiliki tanduk itu.

Pan Balang Tamak

Cerita Mahabharata. Hiduplah seorang lelaki di Bali pada zaman dahulu. Pan Balang Tamak namanya. Pan Balang Tamak dikenal selaku orang yang licik dan cerdik. Kecerdikannya kerap digunakannya untuk berbuat licik. Ia juga dikenal selaku sosok pembohong, sombong, pemalas, dan jarang bergaul dengan orang lain. Orang-orang di desanya tidak menyukai Pan Balang Tamak. Sang Kepala Desa di mana Pan Balang Tamak tinggal termasuk orang yang tidak senang dengan Balang Tamak.

Siap Selem

Cerita Mahabharata. Ada cerita, seekor ayam betina bernama I Siap Selem. Dia mempunyai anak ayam yang banyak juga, yang masing-masing memiliki nama-nama unik. Salah satunya, I Ulagan yang berarti tanpa bulu. Sebagai seorang induk, I Siap selem ini sangat protektif terhadap anak-anaknya dan juga sangat cerdik. Musuh abadi keluarga ayam kecil dan sejahtera ini adalah seekor luwak bernama Men Kuwuk.

Bukit Gumang

Cerita Mahabharata. Seorang laki-laki dari Pulau Jawa (Jaba – luar ?), entah siapa namanya, terlunta-lunta pergi ke Bali. Ia jatuh miskin. Pekerjaannya sehari-hari hanya berjudi dan bermalas-malasan. Tanah rumah dan harta bendanya habis terjual karena ia selalu kalah dalam perjudian.

Di Bali ia berharap dapat menghindari kebiasaannya yang sangat buruk itu. Sambil mengenang nasibnya yang malang itu, ia melangkah tak tentu arah. Berpuluh sungai terseberangi, berpuluh hutan dan gunung terlewati, akhirnya ia sampai di sebuah bukit di ujung timur Pulau Bali. Penduduk Desa Bugbug yang tinggal tidak jauh dari bukit itu, menamakan tempat itu Bukit Juru atau Bukit Gumang.

I Belog dan Bebeknya

Cerita Mahabharata. Dikisahkan, pada jaman dahulu hiduplah seorang anak lelaki kecil bernama I Belog. Ia tinggal bersama dengan ibunya yang sudah tua dan menjanda. Bapaknya sudah meninggal saat I Belog masih bayi. I Belog sesuai dengan namanya, memiliki kekurangan dalam hal kecerdasan. Seringkali ia berbuat yang keliru karena kebodohannya.

Sapuh Leger

Cerita Mahabharata. Dalam Kala Tattwa diceritrakan Bhatara Siwa bersama saktinya Dewi Giriputri/Uma, sedang bercengkrama di laut. Sedang asyiknya menikmati keindahan laut, tiba-tiba birahi Bhatara Siwa bangkit dan langsung menyatakan kehendaknya kepada Sang Bhatari Saktinya. Hasrat Bhatara Siwa itu ditolak oleh Bhatari Giriputri, karena prilaku yang demikian itu tidak sesuai dengan prilaku para dewa-dewa di Kahyangan. Tetapi pada waktu itu Bhatara Siwa membantah pendapat Bhatari Giriputri, karena siapa yang dapat menahan nafsu yang sedang bergelora secara tuntas dan seketika, karena nafsu itu timbul dari indria yang bertemu dengan wisaya-nya.

Dalem Bedahulu

Cerita Mahabharata. Sri Tapolung (Sri Tapa Hulung) yang bergelar (Bhatara Asta Asura Ratna Bumi Banten, "Sri Gaja Wahana"; Babad Usana Bali Pulina, Ida Dalem Batu Ireng) adalah seorang raja sakti dari Bali yang bertahta di Bedahulu sebagai Dhalem pada tahun Çaka 1250 (1328 Masehi) yang dalam purana bali dwipa disebutkan Beliau merupakan putra Sri Masula Masuli dari Dinasti Warmadewa.

Dalam sejarah kerajaan bedahulu sebagaimana disebutkan, beliau sangat bijaksana serta adil dalam mengendalikan pemerintahan dan taat dalam melaksanakan upacara keagamaan, beliau terkenal sebagai seorang pemberani serta sangat sakti. Juga dalam pemerintahannya beliau mengadakan pergantian sejumlah pejabat pemerintahan antara lain adalah :

Detya Kala Rau - Terjadinya Gerhana Matahari

Cerita Mahabharata. Alkisah, Kerajaan Wisnuloka dipimpin oleh Dewa Wisnu. Kerjaan Wisnuloka dihuni oleh para dewa dan bidadari. Salah satu bidadari itu bernama Dewi Ratih atau Dewi Bulan.

Kerajaan Wisnuloka sering mendapat ancaman dari para raksasa yang bermukim di Bumi Balidwipa. Diantara para raksasa itu, yang paling menakutkan adalah Kala Rau. Ia bertubuh besar dan kekar. Wajahnya sangat menyeramkan. Ia pun sangat sakti. Kesaktiannya melebihi kesaktian beberapa dewa. Kala Rau mengancam akan meyerang Kerajaan Wisnuloka karena cintanya ditolak oleh Dewi Ratih atau Dewi Bulan.

Pan Kasim dan Ular Sakti

Cerita Mahabharata. Alkisah, di suatu desa di Bali, pernah ada sepasang suami istri. Si suami bernama Pan Kasim dan si istri bernama Men Kasim. Keduanya hidup dalam kondisi yang hanya mengandalkan pekerjaan sebagai pencari kayu bakar, untuk dijual atau ditukar dengan kebutuhan hidup sehari-hari.

Suatu ketika Pan Kasim menolong seekor ular. “Tolong, tolong, pohon ini menutupi lubangku. Aku jadi tidak bisa keluar,” jerit ular dari dalam lubangnya.

Asal Usul Kabupaten Buleleng dan Kota Singaraja

Cerita Mahabharata. Dahulu kala di Pulau Bali, tepatnya di daerah Klungkung hiduplah seorang Raja yang bergelar Sri Sagening. Ia mempunyai istri yang cukup banyak. Istri yang terakhir bernama Ni Luh Pasek. Ni Luh Pasek berasal dari Desa Panji dan merupakan keturunan Kyai Pasek Gobleg. Namun malang nasib Ni Luh Pasek, sewaktu ia mengandung, ia dibuang secara halus dari istana, ia dikawinkan dengan Kyai Jelantik Bogol oleh suaminya.

Kesedihannya agak berkurang berkat kasih sayang Kyai Jelantik Bogol yang tulus. Setelah tiba waktunya ia melahirkan anak laki-laki yang dinamai I Gusti Gede Pasekan.

Rajapala - Pemburu Tampan Yang Beristrikan Bidadari Kahyangan

Cerita Mahabharata. Tersebutlah seseorang yang bernama Rajapala, yang berasal dari Wanakeling, rupanya tampan, pekerjaannya berburu. Pada saat berada dalam perburuan di tengah hutan, ia kepayahan dan kehausan, lalu ada keinginannya untuk mencari air.

Dalam perjalanannya mencari mata air, melewati sebuah asrama yang kosong, lalu ia berteduh di bawah pohon tigaron, disampingnya ada pancuran dengan air yang jernih, dikelilingi dengan pepohonan dan bunga-bunga yang harum. Pada saat menikmati keheningan, ia melihat tujuh orang bidadari (widyadhari) yang cantik-cantik, sedang asyik mandi di kolam.

Manik Angkeran dan Naga Besukih

Cerita Mahabharata. Pada jaman dahulu kala, ada seorang pemuda bernama Manik Angkeran. Ayahnya seorang Begawan yang berbudi pekerti luhur, yang bernama Begawan Sidi Mantra. Walaupun ayahnya seorang yang disegani oleh masyarakat sekitar dan memiliki pengetahuan agama yang luas, tetapi Manik Angkeran adalah seorang anak yang manja, yang kerjanya hanya berjudi dan mengadu ayam seperti berandalan-berandalan yang ada di desanya. Mungkin ini karena ia telah ditinggal oleh Ibunya yang meninggal sewaktu melahirkannya. Karena kebiasaannya itu, kekayaan ayahnya makin lama makin habis dan akhirnya mereka jatuh miskin.

I Lubdaka - Pemburu Yang Masuk Surga

Cerita Mahabharata. Hari Raya Savalatri (Sawaratri) merupakan hari Pejagran, di mana Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa), dalam kepercayaan umat Hindu, memanifestasikan diri sebagai Dewa Siwa yang melakukan yoga semalam suntuk untuk melebur dosa manusia. Pada malam Savalatri ini, tiap insan mendapat kesempatan melebur segala dosa dengan melaksanakan brata Siwaratri. Ini disebutkan dalam kitab Padma Purama yang menyebutkan malam Siwaratri adalah malam peleburan dosa manusia yang pernah dilakukan sepanjang hidupnya dan Lontar Lubdaka yang menyatakan bahwa walaupun seseorang sangatlah berdosa, tapi jika ia melaksanakan brata Sawaratri, niscaya masih mendapat kesempatan untuk melebur semua dosanya. Demikianlah gambaran yang dilukiskan dalam cerita rakyat Bali Lubdaka, yang kemudian masuk ke dalam khazanah cerita rakyat Indonesia.

Jayaprana dan Layonsari

Cerita Mahabharata. Pada jaman dahulu kala, ada sebuah kerajaan kecil di daerah utara pulau Bali. Kerajaan itu bernama kerajaan Wanekeling Kalianget. Di kerajaan itu, hiduplah satu keluarga sederhana, terdiri dari suami istri serta tiga anaknya, dua orang laki-laki dan seorang wanita. Kerajaan itu terkena sebuah wabah yang menyebabkan banyak warganya meninggal, baik dari kalangan kerajaan maupun rakyat biasa. Keluarga sederhana itu pun ikut terkena wabah, empat anggota keluarganya meninggal dan menyisakan si bungsu, I Nyoman Jayaprana.

Dasaratha dan Pengorbanan Kaikeyi

Cerita Mahabharata. Oleh : Luh Made Sutarmi                                 Instant Pay For You
Seorang pria mencintai kekasihnya paling banyak, mencintai istrinya paling baik, tapi mencintai ibunya paling lama (A man loves his sweetheart the most, his wife the best, but his mother the longest), tulis Irish Proverb dengan bijak bertutur, bahwa mencintai adalah pilihan hidup. Dalam