Make a donation Talk Fusion Saling Memberi
Showing posts with label Filsafat Mahabharata. Show all posts
Showing posts with label Filsafat Mahabharata. Show all posts

Tali Penghubung Badan Kasar dan Badan Halus

Filsafat Mahabharata.    Donation
Apabila seseorang meninggalkan jasadnya dengan penuh kesadaran, Sang Ego ini dapat menikmati proses kematiannya, karena sebenarnya ia mungkin sudah pernah mengalaminya beberapa kali dalam alam meditasi. Ia sudah terbiasa. Pertama akan terasa seolah-olah ia memasuki terowongan panjang yang bersinar, bercahaya. Seperti lampu-lampu diskotek yang berkedipan. Terowongan ini tidak lain adalah Tali Penghubung yang akan kita bicarakan. Anak-anak muda kita yang senang dengan diskotek dan lampu-larnpu yang berkedipan itu sebenarnya hanya sedang merindukan pengalaman masuk-keluar terowongan ini, yang dapat membuat mereka begitu tenang, begitu tenteram.

Kremasi, Salah Satu Solusi Atasi Roh Gentayangan

Filsafat Mahabharata.   Donation
Semua mahluk hidup yang ada di dunia ini, akan selalu mengalami siklus lahir, hidup dan mati. Dalam proses kelahiran dan dalam proses hidup, tentu kita tidak asing lagi, karena kita masing-masing telah mengalaminya secara sadar sampai dengan saat ini. Namun proses kematian dan proses setelah kematian, masih sangat asing bagi kita, terutama bagi mereka yang belum memahami siapa sebetulnya diri mereka yang sesunguhnya. Kematian hanyalah tidak berfungsinya badan kasar kita sehingga badan halus kita tidak memiliki tempat lagi di badan kasarnya. 

Bagi badan halus (ruh) yang mengalami kesadaran akan kematian ini, tidak akan mengalami kebingungan, namun yang paling menderita adalah mereka yang mati tanpa kesadaran dan badan kasarnya (jasadnya) diawetkan atau dikubur setelah dimasukkan kedalam peti yang kokoh. Selama badan kasarnya tidak musnah sama sekali, maka ia pun akan terus gentayangan dan terus berada di sekitar jasadnya, rumah yang pernah dihuninya, para sahabat yang dicintainya dan lain-lainnya. Keterikatan-keterikatannya semasa hidup masih membelenggu dirinya. Ia akan selalu berada di lingkungan yang sama. Roh-roh seperti inilah yang biasanya menampakkan diri. Yang selama ini kita anggap hantu adalah roh-roh manusia yang sedang gentayangan ini. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama).

Pohon Tenget?


Filsafat Mahabharata.         Donation
Sering kali muncul pertanyaan "Pak/Bu itu Pohon-nya kenapa disembahyangi atau di-ikatkan kain warna Hitam & Putih (poleng) ? Apakah ada Penunggunya ya, kok serem banget dan jadi takut lewat sana" jawab orang bali , Nah sebagai Orang Bali & tinggal di Bali, wajib hukumnya kita paham dan bisa memberikan penjelasan yang benar, agar makna gambar diatas tidak multitafsir.
Kita kembali ke dasar falsafah/hakekat dari ajaran Hindu Bali adalah Tri Hita Karana, yang berasal dari kata tiga penyebab terciptanya kebahagiaan manusia. Terciptanya kebahagiaan manusia ini adalah adanya hubungan yang selaras antara Manusia dengan Tuhan, Manusia dengan Alam, serta sesama Manusia. Bagi pohon yang besar seperti beringin termasuk dalam kriteria hubungan Manusia dengan Alam, dimana fungsi pohon adalah sebagai penyaring udara dengan menghasilkan oksigen, sebagai penyedia makanan bagi hewan herbivora, menjaga kesuburan tanah, serta menahan laju air dan erosi, dan menjadikan lingkungan lebih nyaman.

Navavidha Bhakti

Filsafat Mahabharata. Puncak dari karma yadnya jnana. segala pengetahuan tidak akan ada gunanya tanpa dilaksanakan (karma). karma harus dilakukan dengan sikap niskama karma. Niskama karma adalah karma yang dilakukan tanpa pamrih atau karma yang dipersembahkan kehadapan BRAHMAN. Swami siwananda dalam Bhagavata Purana VII.5.23 disebutkan ada sembilan bhakti yang patut dilaksanakan yang disebut dengan Navavida Bhakti yaitu:
Sravanam kirtanam visnah
Smaranam pada sevanam
Archanam vandanam dasyam
Sakhyam atmanivedanam

Adapun bentuk-bentuk dari masing-masing bhakti ini adalah.           Adv : Saling Memberi

Pedoman Perilaku Pemberian Shirdi Sai Baba

Siapapun yang datang padamu, hewan ataupun manusia sudah pasti karena adanya hubungan. Maka, janganlah sekali-kali menolak mereka. Terimalah mereka dengan penuh hormat.

Karena hubungan kita di masa lalu, maka kita bertemu lagi pada masa kini. Marilah kita saling menyayangi dan saling membahagiakan.

Janganlah bersikap kasar terhadap mereka yang mengharapkan bantuan darimu. Bila memang tidak bisa, atau tidak mau mintalah maaf. Jangan menghardik mereka.

Biarlah orang lain mengejekmu, jangan balas dia dengan ejekan. Jika kau bersabar maka kau akan selalu bahagia.

Meluasin atau Nunas Bawos

Dalam ritual meluasin atau nunas bawos ini, biasanya para Balian atau Jero Dasaran akan berusaha berkomunikasi dengan roh-roh, para dewa-dewi, bhatara-bhatari atau mengundang roh para leluhur dari keluarga yang datang kepada mereka, dengan kemampuan mistik dan mantra. Dalam ritual ini, tubuh Balian atau Jero Dasaran ini akan dirasuki oleh roh atau leluhur yang diundang.

Komponen Manusia Menurut Spiritual Veda

Filsafat Mahabharata.
Secara spiritual manusia mempunyai tubuh yang dibedakan menjadi dua bagian yaitu Tubuh Fisik dan Tubuh Halus, kedua bagian tubuh ini selalu bersama, dimana tubuh fisik merupakan wadah/kontainer atau tempat bagi tubuh halus yang berlapis-lapis. Tubuh halus yang membuat tubuh fisik dapat hidup adalah Atman (roh suci). Atman merupakan bagian terkecil dari Para Maha Atman yang tiada lain adalah Brahman atau Tuhan itu sendiri.

Tri Hita Karana

Filsafat Mahabharata.                                 Free Trial For 30 Days
Secara leksikal Tri Hita Karana berarti tiga penyebab kesejahteraan. (Tri = tiga, Hita = sejahtera, Karana = penyebab). Istilah Tri Hita Karana memang tidak disebutkan secara spesifik dalam sloka-sloka Veda. Ia merupakan sebuah konsep yang lahir dari ajaran-ajaran Hindu yang berhubungan dengan bagaimana hubungan antara manusia dengan apa yang ada disekitarnya dan dengan siapa yang menciptakannya. Tri Hita Karana popular dengan istilah Parhyangan, Pawongan dan Palemahan. Berikut sedikit ulasan mengenai penerapan Tri Hita Karana :

Sepuluh Petuah Bijaksana Semar

Filsafat Mahabharata.                                 Free Trial For 30 Days
  1. Urip iku Urup. Hidup itu merupakan nyala jiwa. Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi setiap orang disekitar kita.
  2. Memayu hayuning bawana, ambrasta dur hangkara. Harus dan wajib hukumnya mengusahakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah, dan tamak.
  3. Sura dira jaya jayaningrat, leburing dening pangastuti. Segala sifat keras hati, picik, dan angkara murka hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati, dan sabar.
  4. Ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake, sakti tanpa aji-aji, sugih tanpa bandha. Berjuang tanpa perlu membawa massa, menang tanpa merendahkan/mempermalukan.

Parasurama, Avatara Ke Enam

Filsafat Mahabharata.                                 Instant Pay For You
  • Nama lain : Rambhadra, Ramabargwa, Bregupati, Rama Bhargawa, Ramaparasu
  • Arti Nama : Rama Yang Membawa Kapak (Ramaparasu), Rama Sang Keturunan Maharsi Bhregu (Rama Bhargawa).
  • Ras : Manusia Avatara (Avatara Wisnu), Chiranjiwin (Kaum Abadi), Dewa (versi Jawa).

Tri Kaya Parisudha

Filsafat Mahabharata.                                 Instant Pay For You

Tri Kaya Parisudha artinya tiga gerak perilaku manusia yang harus disucikan, yaitu berpikir yang bersih dan suci (Manacika), berkata yang benar (Wacika) dan berbuat yang jujur (Kayika). Dari tiap arti kata di dalamnya, Tri berarti tiga; Kaya bararti karya atau perbuatan atau kerja atau prilaku; sedangkan Parisudha berarti "upaya penyucian".Jadi "Trikaya-Parisudha berarti "upaya pembersihan/penyucian atas tiga perbuatan atau prilaku kita".

Matsya, Avatara Pertama

Filsafat Mahbharata.                                 Instant Pay For You
Ras : Avatara Wisnu
Wujud : Ikan Raksasa
Masa Kemunculan : Satya Yuga
Lawan Utama : Ashura Hayagriva

Hidup Untuk Agama versus Agama Untuk Hidup

Filsafat Mahabharata.                                 Instant Pay For You
HIDUP UNTUK AGAMA.
  • Tidak perlu kwalitas yang penting kuantitas (jumlah), semakin besar jumlah semakin banyak devisa dan keuntungan yang siap juga didonasikan untuk melipatgandakannya lagi.

Tiga Macam Manusia

Filsafat Mahabharata.                                 Instant Pay For You
Ada Tiga macam Manusia yang menonjol di Dunia ini yang semuanya terbagi oleh Tri Guna atau Tiga Sifat (Sattva, Rajas dan Tamas) dan Tri Dosha atau Tiga Tipe Badan (Kapha, Pitta, Vata), yaitu ;

Tri Guna

Filsafat Mahabharata.                                 Instant Pay For You
Tri Guna terdiri dari dua kata yakni Tri yang artinya tiga dan guna yang artinya sifat. Jadi tri guna berarti tiga sifat yang mempengaruhi manusia.

Ketiga sifat ini saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya dan membentuk watak seseorang. Apalagi jika ketiga sifat tersebut dapat berjalan dengan harmoni, maka sesorang akan dapat mengendalikan pikirannya dengan baik.

Tri Dosha

Filsafat Mahabharata.                                 Instant Pay For You


Konsep Dasar Tri Dosha

Tri dosha berasal dari kata Sansekerta (India kuno), yang berakar dari kata Tri dan Dosha. Tri artinya tiga dan Dosha yang asal katanya Dhus, Dhus berarti melemahkan, atau merusak yang lain atau bisa juga diterjemahkan merusak keseimbangan dan keharmonisan badan. Tubuh menjadi lemah akibat berubahnya atau rusaknya kesehimbangan sehingga Raga yang semula sehat menjadi sakit. Tri dosha terdiri dari: Vatta (angin atau udara atau akasa), Pitta (Empedu atau panas atau teja) dan Kapha (Lendir atau air atau apah atau pertiwi). Didalam tubuh yang sehat ketiga unsur ini selalu ada, yang sangat berperanan penting dalam aktifitas tubuh, harus dalam keadaan sehat ataupun normal. Kalau keseimbangan ketiga unsur Tri dosha ini selalu berada dalam keadaan seimbang. kalau terganggu oleh berbagai sebab baik yang berasal dari badan diri sendiri maupun dari luar tubuh. Untuk penyembuhannya agar tubuh kembali sehat harus mengembalikan keseimbangan ketiga unsur tersebut seperti keadaan semula.

Kemanakah Jiwa Kita Setelah Kita Mati?

Filsafat Mahabharata                                 Instant Pay For You
Kemanakah jiwa kita setelah kita mati? Untuk itu mari kita simak salah satu sloka di dalam Bhagavad Gita 18:12 yang berbunyi sebagai berikut :

“Bagi mereka yang masih terikat (dengan hasil), adalah tiga macam hasil perbuatan yang diperolehnya setelah kematian, yakni; yang menyenangkan, yang tidak menyenangkan, dan gabungan dari keduanya (antara yang menyenangkan dan tidak menyenangkan). Namun, bagi seorang samnyasi (yang tidak terikat dengan hasil perbuatannya), yang demikian itu tidak ada.” 

Teladanilah Alam, Jadikan Hidup Sebagai Persembahan

Filsafat Mahabharata                                 Instant Pay For You
Alam Semesta telah menghaturkan dirinya dan telah mempersembahkan segala sesuatu yang dimilikinya, untuk menunjang kehidupan kita. Di dalam Bhagavad Gita 17:24 dikatakan bahwa :

tasmad om ity udahrtya yajna-dana-tapa1_1-kriyah

pravartante vidhanoktah satatam brahma-vadinam

Aplikasi Tri Hita Karana

Filsafat Mahabharata. Tri Hita Karana sebagai konsep etika Hindu diartikan sebagai tiga bentuk atau tiga wujud hubungan yang harmonis dan seimbang, saling melengkapi, saling membutuhkan, saling memberi, saling menerima serta saling merangkul dalam satu kesatuan kesemestaan yang secara lebih spesifik tertuang dalam aplikasi hubungan antara Parahyangan, Palemahan dan Pawongan.

Dialog Tentang PRAKRTI

Filsafat Mahabharata.
Sisya: Guru, pada kesempatan ini mohon jelaskan kepada saya mengenai apa yang disebut sebagai prakrti.

Guru: Anakku, secara umum prakrti berarti alam atau dunia. Prakrti juga dapat berarti materi, tenaga atau energi. Kadang kala prakrti juga berarti sifat, tabiat, perangai, watak dan hakekat. Tetapi dalam Bhagavad Gita, prakrti umumnya berarti alam material.